Saturday, February 8, 2014

John Chen: Bos Baru BlackBerry


BlackBerry mengumumkan berbagai keputusan penting pada Senin (14/11/2013) pagi waktu Kanada. BlackBerry memutuskan untuk membatalkan niatnya untuk menjual perusahaan, menerima dana investasi sebesar 1 milliar dollar AS dari perusahaan lain, dan salah satu yang terpenting, mengganti pemimpin perusahaan.

Ya, BlackBerry akhirnya mengganti Thorsten Heins, CEO yang telah memimpin perusahaan asal Kanada ini selama hampir dua tahun lamanya. BlackBerry pun memutuskan untuk mengganti Heins dengan mantan pemimpin perusahaan Sybase, John Chen.

Mulai November 2013, Chen akan menjabat sebagai CEO sementara dan juga salah satu Chairman BlackBerry. Sambil mencari CEO baru, Chen bakal bertanggung jawab menentukan arah, hubungan, dan tujuan strategis BlackBerry.

Pertanyaan besarnya, siapakah sebenarnya John Chen?

Chen ternyata bukanlah orang asing di dunia TI Amerika Serikat. Ia merupakan salah seorang eksekutif senior di Silicon Valley dan masuk ke jajaran petinggi di Fortune 500. Ia juga merupakan salah satu kunci penyelamat Sybase di masa sulitnya.

Chen kecil sempat bersekolah di Northfield Mount Hermon School. Selesai masa sekolah, ia melanjutkan jenjang pendidikannya ke salah satu universitas terkenal di Amerika Serikat, Brown University dan mendapatkan gelar elektro pada tahun 1978. Setahun sesudahnya, Chen mendapatkan gelar master dari universitas California Institute of Technology.

Karier Chen di dunia TI sangatlah mengesankan. Awalnya, seperti dikutip dari The Globe and Mail, Chen bergabung ke sebuah perusahaan bernama Unisify sebagai Design Engineer, sebelum akhirnya diangkat menjadi Vice President di perusahaan ini juga.

Pada tahun 1991, pria berumur 58 tahun ini memutuskan untuk pindah ke Pyramid Technology. Di perusahaan ini, ia menjabat sebagai Executive Vice President, kemudian diangkat menjadi President, Chief Operating Officer, dan Director di perusahaan ini pada tahun 1993.

Di tahun 1995, Chen kembali berpindah perusahaan. Kali ini, Chen memilih perusahaan TI lainnya, Siemens Nixdorf, sebagai Vice President. Kemudian, ia dipromosikan menjadi President dan CEO Siemens Nixdorf Open Enterprise Computing Division di tahun 1996.

Chen kembali "melompat" ke perusahaan lain, Sybase, pada tahun 1997. Di awal kariernya di perusahaan layanan sistem database ini, Chen langsung ditempatkan sebagai COO dan akhirnya menjadi CEO dan President pada satu tahun sesudahnya.

Kemampuan anak pengungsi dari Hongkong ini benar-benar diuji di Sybase. Chen, sebagai pemimpin perusahaan, harus berpikir keras untuk membawa Syabase yang sedang dalam masa kritis. Pada saat itu, Sybase telah mengalami kerugian selama empat tahun berturut-turut.

Dengan bakat dan kemampuannya, pria kelahiran 1 Juli 1955 ini mampu mengeluarkan Sybase dari masa krisis, dari merugi menjadi untung ratusan juta dollar AS, hanya dalam waktu satu dekade saja. Chen juga berhasil meningkatkan nilai kapitalisasi perusahaan dari 362 juta dollar menjadi 5,8 milliar dollar AS.

Pada tahun 2010, Sybase akhirnya dibeli oleh salah satu perusahaan raksasa TI, SAP. Awalnya, Chen memutuskan untuk bertahan di SAP. Namun, ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut pada awal tahun 2012 karena tidak juga mendapatkan posisi senior.

Tahun 2012, Chen bergabung dengan perusahaan ekuitas swasta Silver Lake sebagai penasihat senior.

Hingga saat ini, Chen masih tercatat sebagai salah satu petinggi di Wells Fargo & Company dan juga Walt Disney.

Dengan segudang pengalaman yang dimilikinya tersebut, akankah Chen menjawab tantangan untuk menyelamatkan BlackBerry, seperti yang dilakukannya terhadap Sybase? Kita tunggu saja.


Sumber

Jonathan Ive: Otak Dibalik Desain Apple


Nama Jonathan "Jony" Ive termasuk dalam daftar orang paling kreatif di dunia teknologi. Dialah otak di balik desain-desain keren pada berbagai perangkat besutan Apple.
Di perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs itu, Ive menempati posisi Senior Vice President of Industrial Design. Dia bertanggung jawab atas penampilan produk-produk andalan Apple, seperti iMac, MacBook, iPod, iPhone, dan iPad.

Ive lahir di Chingford, London, Inggris, pada 27 Februari 1967. Sejak kecil, dia sudah hobi menggambar. Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh Designmuseum.org, Ive mengatakan sudah punya keinginan untuk menggambar dan membuat desain produk sejak dia berusia 13-14 tahun.

"Saya tahu saya ingin membuat desain, tetapi saya belum tahu apa yang ingin saya rancang. Dulu saya tertarik pada apa saja: mobil, produk-produk, furnitur, perhiasan, dan kapal," paparnya.

Setelah berdiskusi dengan beberapa konsultan desain, Ive akhirnya memutuskan untuk berkonsentrasi pada ilmu desain yang paling umum, yakni desain produk. Akhirnya dia fokus mempelajari seni dan desain di sekolah, kemudian kuliah di jurusan desain industri di Newcastle Polytechnic (kini bernama Northumbria University).

Saat kuliah, Ive sudah merasa nyaman menggunakan Apple Mac. Menurut dia, tidak ada komputer yang menarik pada masa itu, kecuali Apple Mac. Hanya Apple Mac yang mendukung pekerjaan desainnya. Mungkin itulah salah satu titik balik dalam kehidupan seorang Jony Ive.

Pada tahun 1997, Ive yang sudah bekerja sebagai desainer di Apple berniat mengundurkan diri. Saat itu Apple tengah kehilangan arah. Para pemimpin di perusahaan itu lebih fokus meningkatkan keuntungan bisnis ketimbang menciptakan produk-produk yang bagus. Hal itu membuat bisnis Apple merosot dan perusahaan nyaris bangkrut.

Namun, tahun 1997 rupanya menjadi tahun bersejarah bagi Apple dan Ive. Apple membeli Next, perusahaan komputer milik Steve Jobs. Akuisisi itu membawa Jobs masuk kembali ke perusahaan lama yang dia dirikan, setelah dia dipecat pada tahun 1985.

Mengetahui Jobs akan kembali ke Apple, Ive mengurungkan niatnya untuk mengundurkan diri. Singkat cerita, Apple mulai membenahi diri di bawah kepemimpinan Jobs. Di samping Jobs, Ive menjadi salah satu pahlawan dalam sejarah kebangkitan Apple. Ive pun naik pangkat menjadi kepala desainer hardware Apple.

Ketika masih hidup, Jobs memiliki hubungan yang sangat baik dengan Ive. Mereka berdua bahkan sering dijuluki "Jives", gabungan dari nama mereka, Jobs dan Ive. Dalam buku biografi mengenai Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson, Jobs bahkan menyebut Ive sebagai partner spiritualnya di Apple.

Dalam buku tersebut, istri Jobs, Laurene Powell, juga mengakui kedekatan almarhum suaminya itu dengan Ive. Ive kerap main ke rumah Jobs, dan keluarga mereka memiliki hubungan yang dekat. Banyak orang datang dan pergi dalam kehidupan seorang Steve Jobs. Mereka mudah tergantikan oleh orang lain, menurut Powell. "Tetapi tidak demikian dengan Jony," ucapnya.

Kedekatan Jobs dengan Ive dimulai ketika Jobs kembali ke Apple. Pertemuan mereka terjadi saat Jobs menyambangi lab desain Apple. Ketika itu, Jobs sedang mencari desainer dari luar Apple untuk meremajakan perusahaannya. Namun kemudian dia bertemu dengan Ive. Jobs memperhatikan cara Ive bekerja dan menyukai desainer muda itu. Sejak itulah, mereka kompak bekerja sama dan melahirkan beragam produk canggih yang menjadi ikon Apple.

Produk pertama yang mereka buat adalah iMac yang tampil dengan warna cerah yang transparan. Desain yang menarik ini membedakan iMac dengan komputer-komputer pada era 1990-an, yang tampil membosankan dengan warna krem.



Desain-desain produk buatan Ive mendapatkan pengakuan Steve Jobs. Seperti dilansir oleh BusinessInsider.com, semasa hidupnya, Jobs pernah mengatakan, "Perbedaan yang dibuat oleh Jony sangat besar; bukan hanya dirasakan di  Apple, melainkan juga di seluruh dunia. Dia adalah orang yang sangat cerdas. Dia memahami konsep bisnis dan pemasaran. Dia juga mengerti apa yang kami lakukan di Apple lebih baik dari siapa pun."
Sepeninggal Steve Jobs, Tim Cook memegang kendali perusahaan Apple sebagai CEO. Akan tetapi jika Cook harus dibandingkan dengan Ive, saat ini Cook adalah karyawan paling berkuasa di Apple, sementara Ive adalah karyawan yang paling penting. Ive berperan dalam memberikan arahan bagi Cook untuk pengambilan semua keputusan yang berkaitan dengan produk-produk Apple.

Pada Oktober 2012, Cook mempromosikan Ive untuk naik ke posisi yang lebih penting, yakni sebagai Senior Vice President of Industrial Design atau kepala dari unit Human Interface di Apple. Dengan jabatan tersebut, Ive bertanggung jawab memimpin para desainer hadware dan software di Apple, salah satu perusahaan paling inovatif di dunia.


Sumber

Marissa Mayer: Otak Perubahan Yahoo




Bulan Juli 2012, dunia digital dikejutkan oleh berita kepindahan Marissa Mayer, salah satu eksekutif Google, ke Yahoo. Saat itu, kinerja Yahoo yang tak lain adalah kompetitor Google tengah disorot karena prestasinya yang menurun.
Menduduki jabatan terpenting di Yahoo membuat Mayer yang baru berusia 37 tahun tercatat sebagai CEO termuda dalam daftar 500 perusahaan terbesar di Amerika Serikat.

Selain cantik, Mayer pun punya catatan prestasi yang cemerlang di Google. Lulusan Universitas Standford ini bergabung dengan Google pada tahun 1999 sebagai karyawan ke-20. Dia termasuk salah satu orang penting di Google, yang telah membesarkan perusahaan internet itu.

Selama di Google, Marissa pernah menduduki berbagai posisi dan bertanggung jawab atas pengembangan berbagai produk Google. Salah satu warisannya di Google, yang masih bisa kita nikmati saat ini, adalah layanan Google Search. Meskipun tampak sederhana, banyak orang tertarik dan memiliki ketergantungan terhadap layanan itu.

Seperti pernah dikatakan oleh Mayer, “I think Google should be like a Swiss Army knife: clean, simple, the tool you want to take everywhere.

Kualitas Google
Di Google, Mayer terkenal dengan gaya kepemimpinannya yang inspiratif. Carmine Gallo, penulis buku The Presentation Secrets of Steve Jobs, pernah mewawancarai Mayer dan lebih dari 50 orang pemimpin bisnis lainnya dalam sebuah riset untuk bukunya yang berjudul Fire Them Up.

Gallo terkesan dengan gaya kepemimpinan Mayer. Menurutnya, Mayer memiliki tiga ciri pemimpin yang berkualitas. Dia memiliki passion terhadap pekerjaannya, persuasif, dan mampu memotivasi timnya.

Marissa bekerja mulai pukul 9 pagi hingga 8 malam. Setelah itu, dia akan berlatih di gym sebelum kemudian kembali bekerja dan membaca email hingga pukul 11 malam. Energi sebesar itu tentu tidak dimiliki seseorang, kecuali jika dia benar-benar memiliki passion terhadap pekerjaannya.

Mayer juga seorang pembicara yang andal dan persuasif. Dia adalah seorang story teller yang memikat. Presentasi selama satu jam, misalnya, bisa dia sampaikan dengan menarik hanya berbekal 10 slide yang semuanya berisi foto.

Satu lagi, sebagai motivator yang ulung, Mayer rajin mendengarkan dan menasihati para karyawannya. Di Google, setiap hari selama 90 menit, mulai pukul 4 sore, Mayer menyediakan waktunya untuk mendengarkan dan berdiskusi dengan para karyawan secara personal. Setiap staf bisa menyampaikan kritik dan mengemukakan ide-idenya langsung kepada Mayer.

Angin perubahan

Setelah mengumumkan kepindahannya ke Yahoo, publik dibuat penasaran dengan gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Mayer di perusahaan itu. Dalam 6 bulan pertamanya di Yahoo, Mayer telah melakukan banyak perubahan, bahkan melebihi yang telah dilakukan oleh para pendahulunya selama bertahun-tahun.

Mayer membenahi layanan email Yahoo dan mendesain ulang Flickr, aplikasi sharing foto yang dimiliki Yahoo. Desember lalu, Yahoo juga merilis aplikasi mobile baru untuk Yahoo Mail and Flickr. Hal ini cukup berhasil menambah jumlah fans Yahoo dan meningkatkan jumlah upload foto ke Flickr hingga 25 persen.

Di lingkungan perusahaan, Mayer menyuntikkan semangat kepada para karyawan lewat berbagai kebijakannya. Dia membangun kantin bagi para karyawan dan membekali mereka dengan iPhone dan ponsel Android. Selain itu, dia juga menarik beberapa bintang digital di Silicon Valley untuk bergabung dengan jajaran direksi Yahoo, termasuk Max Levchin, co-founder PayPal, dan Henrique de Castro, salah seorang eksekutif Google.

Tanggal 28 Januari lalu, Yahoo merilis laporan kuartalnya. Selama kuartal 4 (Q4) tahun 2012, Yahoo menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang positif untuk pertama kalinya dalam 4 tahun terakhir. Pertumbuhan itu bahkan lebih tinggi dari profit yang diprediksi oleh Wall Street.

Situs CNBC melansir pendapatan Yahoo Search saja naik sebesar 4 persen pada Q4, yakni 482 juta dollar AS, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 465 juta dollar AS. Secara keseluruhan, Yahoo melaporkan meraih laba bersih sebesar 272 juta dollar AS.

Sudah pulih?

Meskipun Yahoo mampu menunjukkan kinerja yang membaik di bawah kepemimpinan Mayer, masih terlalu pagi untuk mengatakan Yahoo telah pulih, apalagi persaingan bisnis digital semakin ketat saat ini. Masih ada banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Yahoo.

Dalam empat tahun terakhir, Yahoo telah lima kali berganti CEO. Selama itu pula, Yahoo seperti mengalami krisis identitas untuk mencari tahu apa fokus dan kekuatan bisnisnya—apakah di bidang media, mesin pencari, iklan, atau yang lainnya. Dengan pengalamannya di Google, Mayer tampaknya telah menentukan visi yang lebih mapan untuk Yahoo.

Ada mantra soal daily habits yang selalu diulangi oleh Mayer untuk menegaskan visi yang dibuatnya untuk Yahoo. Menurutnya, Yahoo telah ikut membantu menciptakan kebiasaan sehari-hari (daily habits) dalam kehidupan orang. Yahoo akan menciptakan kebiasaan sehari-hari di dunia, yang lebih menghibur dan menginspirasi.

Mayer mengatakan akan fokus pada produk-produk  yang sering digunakan oleh para pemilik akun Yahoo agar mereka semakin rajin menggunakan produk-produk tersebut. Mayer pun menegaskan bahwa personalisasi konten adalah cara terbaik untuk mencapai tujuan itu. Tampaknya, Yahoo akan mengerahkan tenaga untuk meningkatkan platform mobile-nya dan akan berbagai aplikasi mobile di masa mendatang.


Sumber

Berapa Gaji CEO baru Microsoft




Pencarian CEO baru Microsoft akhirnya berakhir pada Selasa (4/2/2014). Perusahaan perangkat lunak terbesar di dunia itu menunjuk Satya Nadella sebagai CEO baru, dan rela menggaji mahal pria 46 tahun asal India tersebut.

Microsoft mengungkapkan, Nadella akan mendapatkan gaji sebesar 1,2 juta dollar AS (atau sekitar Rp 14,6 miliar) untuk satu tahun pertamanya sebagai CEO.

Jika dirata-rata, setiap bulannya Nadella akan mendapat 100.000 dollar AS (sekitar Rp 1,219 miliar).

Gaji Nadella saat ini jauh di atas gaji CEO Microsoft sebelumnya, Steve Ballmer, yang menerima 700.000 dollar AS (atau sekitar Rp 8,5 miliar) per tahun. PCWorld mencatat, Ballmer memang meminta gaji yang relatif rendah dari Microsoft, bahkan, di bawah rata-rata gaji para CEO di perusahaan sejenis.

Selain gaji, Microsoft menjelaskan bahwa Nadella juga akan menerima bonus uang tunai yang nilainya mencapai 3,6 juta dollar AS, tergantung pada kinerja bisnis Microsoft. Ia juga mendapat hadiah saham Microsoft senilai 13,2 juta dollar AS yang dimulai pada tahun fiskal 2015.

Sebelumnya, saat menjabat sebagai executive vice president of cloud and enterprise Microsoft, Nadella menerima gaji sebesar 675.000 dollar AS per tahun.

Pada 2013 lalu, ia menerima bonus uang tunai 1,6 juta dollar AS berkat kinerja unit bisnis komputasi awan dan korporasi yang mengalami pertumbuhan lebih dari 9 persen setahun, berkat bisnis SQL Server dan Windows Server.

Nadella, yang lahir di Hyderabad, India, pada 1967, akan memimpin Microsoft secepatnya. Sambil melangkah ke peran barunya sebagai CEO, Nadella meminta sang pendiri Microsoft, Bill Gates, sebagai penasihat teknologi yang akan sering berhubungan dengan tim produk.

Nadella telah bekerja untuk Microsoft selama 22 tahun, sejak 1992. Namanya dikreditkan sebagai salah seorang yang turut mengembangkan berbagai layanan Microsoft, termasuk produk Azure.

Sebagai nakhoda Microsoft, Nadella punya banyak tugas besar. Ia harus mempertahankan bisnis yang selama ini mendatangkan banyak keuntungan, turut meningkatkan penjualan komputer pribadi berbasis Windows, serta menjawab tantangan atas tren perangkat mobile


Sumber

Facebook Beberkan Jumlah Akun Palsu




Dalam laporan kuartal empat 2013 yang dirilis minggu lalu, Facebook mengungkapkan beberapa fakta jumlah penggunanya. Dalam laporan tersebut, terungkap bahwa 5,5 hingga 11,2 persen akun Facebook ternyata palsu.

Akun-akun palsu Facebook tersebut jumlahnya mencapai 67,65 juta hingga bulan Desember 2013. Angka tersebut bisa melonjak menjadi 137,76 juta akun jika menurut perkiraan persentase tertinggi Facebook.

Lebih spesifik lagi, dikutip dari The Next Web, Facebook merinci jumlah akun palsu tersebut beserta "kelakuannya" sebagai berikut:

1. Sebanyak 4,3 - 7,9 persen akun merupakan akun duplikat milik satu orang atau sekitar 52,89 hingga 97,17 juta akun.

2. Sebanyak 0,8 - 2,1 persen tergolong misclassified atau akun tersebut dibuat untuk sesuatu hal tertentu, bukan untuk digunakan seseorang. Jumlah ini mencapai 9,84 -25,83 juta akun.

3. Sebanyak 0,4 - 1,2 persen termasuk kategori undesireable atau dibuat untuk melanggar ketentuan Facebook, jumlahnya mencapai 4,92 hingga 14,76 juta akun.

Berbeda dari tahun lalu dimana Facebook merilis satu angka untuk tiap kategori di atas, di tahun ini Facebook merilis rentang angka perkiraan.

Dengan demikian, susah untuk menentukan apakah jumlah akun palsu Facebook itu bertambah atau berkurang. Dalam laporan kuartal pertama tahun lalu, Facebook mengatakan jumlah akun palsunya sekitar 8,7 persen gdan pertengahan tahun 2013 adalah 8,35 persen.

Sumber